Inseminasi Intra-Uterine (IUI)

Apalah IUI?

Inseminasi intrauterin (IUI) adalah prosedur yang melibatkan penempatan sperma di dalam rahim wanita untuk memfasilitasi pembuahan.Hal ini biasanya hanya membutuhkan penyisipan spekulum dan diikuti dengan cannula. Perawatan fertilitas ini tidak melibatkan manipulasi sel telur wanita. Tujuan dari IUI adalah untuk meningkatkan jumlah sperma yang mencapai tuba falopi dan kemudian meningkatkan kemungkinan untuk pembuahan.

 

Pengaturan waktu IUI

Pengaturan waktu IUI sangat penting – itu harus dilakukan ketika sel telur berada dalam tuba fallopi.

Selama inseminasi intrauterine, sperma dilepaskan ke dalam rahim. Sperma tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Akibatnya, sperma harus disuntikkan dekat dengan waktu ovulasi.

Salah satu metode untuk pengaturan waktu IUI adalah dengan alat prediksi ovulasi. Alat tersebut mengukur lonjakan LH wanita. Puncak lonjakan terjadi sekitar 12-24 jam sebelum sel telur dilepaskan. Pasien wanita akan dites urinnya pada pagi hari. Jika tes ini positif, dia harus menjalani inseminasi intrauterine pada hari berikutnya.

Metode lain untuk pengaturan waktu inseminasi pemicuan ovulasi buatan. Obat yang disebut hCG (human chorionic gonadotropin) dapat disuntikkan ketika telur telur yang berkembang di dalam rahim telah cukup dewasa untuk dilepaskan melalui pantauan USG. Idealnya, IUI dilakukan sekitar 36 jam pasca injeksi hCG. Telur tersebut hanya bisa bertahan hidup maksimal 24 jam setelah ia dilepaskan.

 

Tingkat keberhasilan untuk IUI

Tingkat keberhasilan IUI tergantung pada beberapa faktor.

  • Usia ibu, fungsi ovarium, penyumbatan tuba fallopi, adhesi pada pelvis dan penyebab infertilitas lainnya.
  • Jumlah sperma motil yang dimasukkan ke dalam rahim. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa jika jumlah sperma motil masih sedikit setelah pencucian sperma, kemungkinan untuk hamil adalah rendah.
  • Tingginya angka sperma. Jumlah sperma yang tinggi tetapi dengan morfologi abnormal juga akan menyebabkan rendahnya tingkat kehamilan.
  • Pengaturan Waktu IUI.

 

Bagaimana IUI dilakukan?

Pasien tidak perlu menahan diri dari hubungan intim sebelum melakukan IUI.Namun, rekomendasi kami adalah lebih baik melakukan hubungan intim ketika alat ovulasi menunjukan tanda positif atau pada hari ketika injeksi hCG diberikan. IUI akan seperti yang diindikasikan di atas.

Sampel air mani dikumpulkan melalui ejakulasi ke dalam wadah steril. Ejakulasi ini biasanyadikumpulkandi klinik secara pribadi. Dalam situasi di mana pria gagal atau tidak mampu memproduksi air mani di klinik, dia diperbolehkan untuk memproduksinya di rumah dan spesimen harus tiba diklinik dalam waktu setengah jam. Penggunaan kondom khusus yang tidak beracun juga dibolehkan. Harap dicatat bahwa kondom biasa tidak dapat digunakan untuk pengobatan IUI.

Kami akan menjadwalkan partner pria untuk mengambil air mani sekitar 1-2 jam sebelum pengobatan IUI, supaya kami dapat mencuci sperma dilaboratorium sebelum perawatan. Ketika seorang pria berejakulasi, cairan yang dikeluarkan terdiri dari dua komponen utama: cairan mani dan sperma. Cairan mani mengandung banyak jenis hormon dan bahan kimia. Satu kelompok bahan kimia pada khususnya dapat menyebabkan masalah yang dikenal sebagai prostaglandin.

Pengolahan/Pencucian sperma memungkinkan dokteruntuk menkonsentrat sperma motil aktif ke cairan kultur. Sperma tidak bisa hidup dalam media kultur untuk waktu yang lama kecuali jika mereka dipertahankan pada kondisi yang tepat–oleh karena itu inseminasi secara cepat setelah pengolahan sperma adalah sangat penting.

Setelah proses pencucian, sekarang saatnya untuk prosedur inseminasi, yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit, akan terasa sedikit tidak nyaman pada wanita. Dokter akan memasukkan kateter kecil ke dalam rongga rahim melalui leher rahim dan menyuntikkan sperma langsung ke dalam rahim.Pasien dapat melanjutkan aktivitas normal mereka setelah prosedur IUI. Jika kehamilan tidak berhasil dari proses IUI awal, prosedur dapat diulang pada siklus berikutnya.

 

Kesulitan dalam prosedur IUI

Kadang-kadang, akan sulit untuk memasukkan kateter IUI ke dalam rahim. Oleh karena itu, dokter bisa saja menggunakan kateter berkawat fleksibel atau bisa juga menggunakan tenaculum. Kawat katater dapat ditekukkan sehingga memudahkan dokter untuk memasuki katater ke dalam rahim. Kateter tersebut akan terasa agak kaku dan berbeda dengan yang biasanya halus dan lemas.

Terpisah dari itu, tenaculum dapat digunakan untuk menahan lubang leher rahim. Dokter melakukan inseminasi dapat menarik leher rahim dan meluruskan sudut antara leher rahim dan rahim. Ini dapat mempermudah kateter IUI masuk ke dalam. Kandung kemih yang penuh berisi sebelum prosedur juga dapat membantu meluruskan sudut tersebut.

Akhirnya, USGdapat digunakan untuk membantu memandu dokter memasukkan kateter ke dalam rongga rahim.

Biasanya, IUI tidak menyebabkan ketidaknyamanan bagi wanita. Kram mungkin akan terjadi setelah proses tersebut, tapi apa yang dirasakan kemungkinan ditimbulkan dari ovulasi ketimbang dari IUI itu sendiri.